Showing posts with label Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poetry. Show all posts

Saturday, January 8, 2011

The Road Not Taken

One of my favorite quotation of all times, comes from Robert Frost's. It goes like this, "Two roads diverged in a wood, and I, I took the one less traveled by, And that has made all the difference." Still awake at 3 in the morning accidentally made me found out that that line comes from a poetry! Robert Frost turns out to be a poet. It's still a good poetry, lovely.

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;

Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I marked the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

by Robert Frost

My favorite word: If.

If you can keep your head when all about you
Are losing theirs and blaming it on you;
If you can trust yourself when all men doubt you,
But make allowance for their doubting too:
If you can wait and not be tired by waiting,
Or, being lied about, don't deal in lies,
Or being hated don't give way to hating,
And yet don't look too good, nor talk too wise;

If you can dream - and not make dreams your master;
If you can think - and not make thoughts your aim,
If you can meet with Triumph and Disaster
And treat those two impostors just the same:.
If you can bear to hear the truth you've spoken
Twisted by knaves to make a trap for fools,
Or watch the things you gave your life to, broken,
And stoop and build'em up with worn-out tools;

If you can make one heap of all your winnings
And risk it on one turn of pitch-and-toss,
And lose, and start again at your beginnings,
And never breathe a word about your loss:
If you can force your heart and nerve and sinew
To serve your turn long after they are gone,
And so hold on when there is nothing in you
Except the Will which says to them: "Hold on!"

If you can talk with crowds and keep your virtue,
Or walk with Kings - nor lose the common touch,
If neither foes nor loving friends can hurt you,
If all men count with you, but none too much:
If you can fill the unforgiving minute
With sixty seconds' worth of distance run,
Yours is the Earth and everything that's in it,
And - which is more - you'll be a Man, my son!

by Rudyard Kipling

And here's to every woman in the world.

Phenomenal Woman by Maya Angelou

Pretty women wonder where my secret lies.
I'm not cute or built to suit a fashion model's size
But when I start to tell them,
They think I'm telling lies. I say,
It's in the reach of my arms
The span of my hips,
The stride of my step,
The curl of my lips.
I'm a woman
Phenomenally.
Phenomenal woman,
That's me.

I walk into a room
Just as cool as you please,
And to a man,
The fellows stand or
Fall down on their knees.
Then they swarm around me,
A hive of honey bees. I say,
It's the fire in my eyes,
And the flash of my teeth,
The swing in my waist,
And the joy in my feet.
I'm a woman
Phenomenally.
Phenomenal woman,
That's me.

Men themselves have wondered
What they see in me.
They try so much
But they can't touch
My inner mystery.
When I try to show them
They say they still can't see. I say,
It's in the arch of my back,
The sun of my smile,
The ride of my breasts,
The grace of my style.
I'm a woman

Phenomenally.
Phenomenal woman,
That's me.

Now you understand
Just why my head's not bowed.
I don't shout or jump about
Or have to talk real loud.
When you see me passing
It ought to make you proud. I say,
It's in the click of my heels,
The bend of my hair,
the palm of my hand,
The need of my care,
'Cause I'm a woman
Phenomenally.
Phenomenal woman,
That's me.

Sunday, November 28, 2010

Terrified feelings.

Badai kekuatiran yang melebur dalam jiwa yang kaku
Rapuh dan rengkuh
Seandainya jemari yang menuliskan takdir
Dan maka manusia hidup dalam keseandaian mereka
Adakah aku benar di mana aku berdiri
Adakah hujan kemarin itu bukan pertanda
Bawa pergi bawa jauh
Dusta dan ingkar
Bilamana ia menjanjikan dongeng sebelum tidur
Mana bisa kita bicara siapa bisa dan tak bisa
Bilamana Tuhan di atasnya
Mana bisa
Bukan kamu

Monday, June 14, 2010

An Afternoon Serve with A Cup of Tea.

Yesterday afternoon. It was a bit raining. I was in the back seat of the car (wishing I had sit on the driver's seat), and thanks to Blackberry who's been very loyal to me along the way home. I was accidentally read Raditya Dika's tweet the other day.. penggalan puisi. About the June Rain (Hujan Bulan Juni). Sastrawannya? Tak lain dan tak bukan adalah Sapardi Djoko Damono. Please don't tell me you don't know him, well if you really got no clue, please google him.

I always love the air in the month of June. Despite the fact that I'm having my birthday at this particular month, I simply find the month... beautiful, of hopes of loves of friends of laughs of big decisions.

Every consecutive June, I asked to be more and more mature than before.
It's less than 10 days counting down to my birthday anyway..

Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni,
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu.
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni,
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu.
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni,
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.


Simple and wise, that's what I love about his poems. June is a month of love, and so does the people who're born in June-loving (and definitely loveable) haha. The air just to beautiful to be resisted. You'll find how often those poetrist write their love poems in June.

Love comes and goes, but some stays.
Some goes stronger even if you try to deny it yourself.

Yang Fana Adalah Waktu
Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga.
Sampai pada suatu hari,
kita lupa untuk apa.
"Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Wednesday, May 26, 2010

Pengantar Tidur

Di waktu seperti ini..
Dunia yang tersentuh dan
raga melayang terasa tak begitu asing.
Setengah menapak setengah berkelana,
mencari jejak mencari fana.
Portal ketiadaan versus keduniawian dibentangkan,
dan begitu saja.
Nafas seiring jejak setapak
berjalan mencari hulu dan muaranya.
Jangan bergerak..
Atau bergerak saja?
Di waktu seperti ini..
Hati yang berjanji mencari hulu
dan muaranya di dunia tanpa batas.
Kamu tak pernah terlalu jauh..
Kamu tak pernah terlalu jauh..
Di waktu seperti ini..
Aku bermuara di hatimu.
Dan lebih dari itu.

Saturday, April 24, 2010

Zip it.

Ingin hujam mereka dengan batu semesta dengki
Obral cinta umbar cerita tak perduli
Satu berdiri di sini terbelenggu setengah nyawa
Muak pada derai tawa bahagia
Ingin hujam mereka dengan batu semesta dengki
Sampai kapan begini?
Terikat tidak
Terseret pun tak jua ada
Teronggak siluet abstrak pada kabut
Ingin hujam mereka dengan batu semesta dengki
Entah kapan...

You think everbody does care with your mess?
Think again. The best ones stay.

Empat dan Satu.

Adakah suatu hari,
laut membentang di batas atmosfir?
Dalam bayang mega,
sang ombak menyapu awan.
Sisakan jejak pasir tanpa nada.

Bukankah
bulan merindu dalam bayang gerhananya?
Rusuki jiwa,
gelisahkan sunyi.
Berbisik ankara nan kasat mata.
Menyusup.
Menunggu di antara agar tak dikenal.

Berkelebat ribuan kata.
Dibebat aturan tetua,
jadi per klausa.
Beberapa tak selaras,
menggantung dipaksa.
Terkadang ada sudah di tanduk bibir.
ya disana saja.
Berputar di tempat.
Dikejar waktu,
ya disana saja.
Merengkuh angan kabut yang berlari.
tak pasti.

Lihat ultraviolet dibayang sagu kabut.
terik dibalik megah.
Menyapaku,
pada lentik anggun tak bernamanya.
Jejak petaka jejaka memantul maya,
saat satu tarik nafas luruh.
Sorga apa ini bernyawa kata syeitan?

Saturday, April 3, 2010

Wordplay

I found my handwriting on a recycled paper while I was cleaning up the exam's mess in my bedroom. It's been a while for me to write this kind of thing tho. Poetry.

Gerhana dihantar surya ke altar bulannya
Mengikat janji satu disana
Meramu cekam pada mereka di atas tikar bumi
Digenggamku berpeluk hati seorang adam
Adam yang menyibak tirai gerhana itu
Sampai berlukis pelangi
Padang rumput berpelangi dengan tersapu derit angin
Damai
Biar sang gerhana lenyap dan surya tak berkawan bulan
Hanya jangan dia
Penawar gerhana dalam rasa ini
Penawar rindu dalam galaksi hati

Wednesday, September 9, 2009

Hypocrite?

It's like trapped inside the Guinevere myth.
Lack of scream,
tell,
laugh,
just a breeze to share my smile.
An unhandled smile.
I don't know if you run
If you ever spend the night,
crawling at our conversation.
A fatalistic warning.
Who's that girl in the mirror?
No eye to eye
No hand in hand
Just heart to heart
From distance through athmosphere
We'll keep it low
Hidden
And love will keep it existance
Just like human being

Tuesday, June 6, 2006

Presented by Me and Adi - my poet partner.

Menghela nafas, berharap ini hanyalah mimpi yang berkepanjangan.
Apakah cinta yang banyak orang bicarakan?
- Adi

Bukankah begitu sederhana?
Lima dari dua puluh enam.
Dicari pribumi seakan tambang emas.
Diartikan,
ditelanjangi,
dikhianati.
Entah siapa kini jati dirinya,
dibiarkan melentur,
berpendar saat benar diasah.
Ia mengapung tanpa nyawa,
diantara janji tahta sebegitu muluknya.

Aku cari Tuhan.
Aku cari sang waktu.
Aku cari Cinta.
Tiga kesatuan yang terlantar saling terasing.
Di-asingkan.
Aku satu di atas kakiku saja.
Ah, dunia menjanjikan cinta pada kabut.
Dinamika yang begitu absurd.

Percaya cinta yang kau percaya.
Jangan boleh mereka diktekan,
tentang aku tentang cintamu.
Hidupkan aku yang mereka bunuh,
dengan percaya mimpi kecilmu.
Aku tak pernah terlambat untuk lahir,
Aku penguasa waktu.

Jadi tak sesederhana itukan?
- Mara

Bukankah cinta seharusnya membawa kebahagaiaan? Mengapa harus terus diselingi dengan duka dan kebingungan? Tak adakah cinta yang statis dengan kebhagiaan? Selalu penuh dengan tanda tanya.

Tak pernah kulihat cinta yang begitu sempuna.
- Adi

Tak hanya kau, aku hidup dinaungi empat musim.
Nama mereka berbeda tak mau dikenal.
Suka, duka, murka, dan sangka.
Nama akhirku bukan sebuah keabsolutan.
Absolut wujud mantra iblis dalam nafas.
Mengikat jiwa dengan janjinya.
Nikmatnya terlalu, membuatmu binasa.
Dunia dibuat tanpa nama,
Kita membuatnya. Semuanya.
Bukankah kita mencinta perbedaan?
Empat musim itu?
Tak ada cinta seperti janji pada buku suci.
Itu cinta aku padaku dan aku pada sang waktu.
Lima itu merangkai pelangi rindu.
Rindu emas seorang pertapa.
Tentang betapa nafasmu berarti bahkan tanpa sedikitpun bergerak.
Sendirinya sang waktu berbisik,
Aku kau genggam.
Kau tak pernah tahu,
Kau tak pernah tahu.
- Mara

Cinta juga bukan sesuatu yang abadi,
datang dan pergi bersama angin emosi.
Tak ada yang konsisten bagi makhluk yang katanya paling mulia itu.
Aku sendiri merasakannya,
aku sendiri mempercayainya
abadi adalah absurd
cinta yang abadi hanya ada dalam puisi,
puisi itu melulu dengan hal yang ingin kau dengar
hal yang sedap didengar.
karena itulah puisi.

Suka terlalu cepat berganti, saya tak akrab dengannya.
Sangka dan durka adalah 2 teman baik yang saya kenal tapi sepi adalah yang paling setia.
- Adi